Makna Keris dalam Budaya Jawa

Keris merupakan senjata pusaka dalam budaya Jawa yang sudah digunakan sejak lebih 600 tahun yang lalu. Senjata keris ini diyakini berasal dari Pulau Jawa sekitar abad ke-9 yang lampau. Hingga abad ke-14, keris juga masih menjadi lambang kebesaran banyak kerajaan di Nusantara, tidak hanya di Pulau Jawa saja. Raja-raja di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, hingga Pulau Sulawesi juga menjadikan keris sebagai lambang kedaulatannya.

Selain sebagai tanda kehebatan seorang raja, dulunya keris juga menjadi alat untuk mempertahankan diri. Bahkan, dalam setiap peperangan, seorang raja ataupun panglima pasti memiliki keris andalan untuk bisa mengalahkan musuh, ataupun dalam menaklukkan kerajaan lain. Banyak yang keris memiliki kekuatan gaib dan kesaktian mandraguna, sehingga menjadikan sejarahnya sangat terkenal, berkat makna keris yang dimilikinya tersebut.

Beberapa keris yang dipercaya memiliki kesaktian, seperti Keris Empu Gandring yang dimiliki oleh Ken Arok dari Kerajaan Singasari, Keris Kanjeng Kyai Condong Campur dan Keris Kyai Sengkelat di Kerajaan Majapahit, Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten di Kerajaan Demak, serta Keris Pusaka Setan Kober milik Sunan Kudus yang kemudian terkenal di tangan Arya Penangsang, yang akhirnya meninggal karena kerisnya itu sendiri.

Keris sebagai “tosan aji” atau sentaja pusaka memiliki keampuhan, karena dalam pembuatannya dilakukan oleh empu pembuat keris yang memang mempunyai kesaktian dan ilmu gaib. Biasanya empu membuat keris dengan campuran dari unsur besi dan baja, serta ada juga yang dicampur dengan dengan batu meteor yang jatuh dari angkasa. Kemudian, empu pembuat keris juga menyertainya dengan doa-doa dan mantra dalam suatu upacara ritual.

Dengan ritual tersebut, keris akan mendapatkan kekuatan magis dan tuah, yang dapat mempengaruhi musuh pemiliknya ketika digunakan. Bahkan, menurut sebuah penelitian ilmiah, keris pusaka memang dapat dirasakan mengeluarkan energi yang tidak kasat mata atau tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Tosan aji ini tidak hanya berupa keris di Jawa, tetapi juga ada senjata pusaka sejenis di daerah lainnya di Indonesia, seperti rencong di Aceh.

Makna keris memang sering dikaitkan dengan hal-hal mistik oleh orang-orang tradisional zaman dahulu. Bahkan, banyak juga yang memiliki kepercayaan bahwa keris mempunyai semangatnya yang sendiri, berkat kekuatan gaib dan kesaktian mandraguna yang diturunkan oleh empu sang pembuatnya. Oleh karena itu, pemilik keris harus menjaga dengan baik, dan dirawat kesaktiannya dengan melakukan sejumlah ritual berdasarkan ilmu-ilmu gaib.

Dalam budaya Jawa tradisional, masyarakatnya meyakini bahwa keris harus dijaga dengan cara diperasapkan pada masa-masa tertentu, seperti pada malam Jumat. Ada juga mereka yang melumuri keris dengan air asam limau, atau disebut dengan “mengasamlimaukan” keris, untuk menjaga agar kekuatannya bisa bertahan. Selain itu, tradisi tersebut juga dilakukan untuk merawat logam pada mata keris agar bisa tahan lama dan tidak cepat rusak.

Begitu juga bagian lain pada keris, yakni hulu dan sarungnya, juga harus mendapatkan perlakuan dan perawatan yang sama. Masyarakat Jawa mengartikan hubungan antara keris dengan sarungnya sebagai sebuah hubungan yang menyatu untuk mendapatkan keharmonisan hidup di dunia. Oleh karena itu, muncullah filosofi “manunggaling kawula – gusti”, yang berarti persatuan antara abdi dengan rajanya atau rakyat dengan pemimpinnya.

Tapi, seiring dengan perkembangan zaman, makna keris pun mengalami perubahan. Saat ini, masyarakat Jawa menggunakan keris sebagai pelengkap dalam upacara adat Jawa, seperti dalam pelaksanaan upacara pernikahan sesuai dengan budaya Jawa. Setiap pengantin laki-laki di Jawa, biasanya harus mengenakan busana Jawi jangkep atau busana Jawa lengkap, yaitu kain batik, baju pengantin, tutup kepala, dan sebilah keris yang diselipkan di pinggang.

loading...
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge