Melestarikan Budaya Indonesia melalui Wayang Orang

Wayang OrangAda banyak cara untuk melestarikan budaya Indonesia, agar tidak ditelan oleh perkembangan zaman yang begitu pesat saat ini. Salah satunya, bisa dengan membuat terobosan kreatif, agar warisan leluhur tersebut dapat dinikmati oleh kaum muda. Kesenian tradisional tidak harus selalu ditampilkan sesuai dengan pakem-pakem tradisi yang berlaku, karena akan membuatnya semakin terkesan kaku dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Misalnya, bisa menyajikan pagelaran wayang yang identik dengan tarian dan tembang-tembang tradisional Jawa, yang dipadukan dengan tarian breakdance, music Rap, hingga Gangnam Style. Cara melestarikan budaya Indonesia itu terlihat dalam pagelaran Wayang Orang bertajuk “Arjuna Galau”, yang diselenggarakan oleh Kelompok Wayang Orang Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Jaya Suprana yang merupakan pimpinan Kelompok Wayang Orang Indonesia Pusaka itu pun menjuluki pagelaran tersebut sebagai “Wayang Gaul”. Semua itu diprogram, agar budaya asli Indonesia tersebut bisa dinikmati oleh generasi muda, sehingga akan lebih akrab dengan kesenian wayang orang karena bisa tampil dengan gaya anak muda. Meskipun begitu, kesenian tradisional wayang tersebut tetap tidak meninggalkan filosofi dan ideologinya.

Sebagai salah satu warisan nenek moyang leluhur bangsa Indonesia yang sarat akan kekayaan budaya bangsa, wayang orang memang mulai terkikis laju zaman saat ini. Buktinya, tidak banyak kelompok atau grup wayang orang yang bertahan pada waktu sekarang. Fakta ini diikuti pula dengan penontonnya yang semakin banyak menghilang. Sehingga, eksistensi pemain dan grup wayang orang itupun semakin terkena imbasnya.

Padahal, wayang orang juga menyimpan sejarah yang sangat panjang. Tradisi wayang orang ini mulai muncul pada tahun 1731, yang saat itu diprakarsai oleh Sultan Hamangkurat I. Ketika itu, sejumlah orang bermain sebagai pelaku atau tokoh dalam cerita wayang. Mereka tampil dengan menggunakan dandanan dan aksesoris yang sangat mirip dengan wayang kulit. Dengan diicampur humor, wayang orang ini pun pernah menjadi tontonan favorit di TVRI.

Dengan mengkolaborasikan wayang orang ini bersama budaya lain yang lebih akrab dengan keseharian anak-anak muda, seperti yang dipertunjukkan dalam pagelaran Arjuna Galau, seni tradisi ini bisa lebih dekat dengan generasi muda. Tidak hanya itu, dialog dalam wayang orang tersebut juga ditampilkan dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh berbagai kalangan masyarakat yang menontonnya selama 4,5 jam.

Sehingga, generasi muda dan masyarakat luas pun semakin tertarik dengan seni tradisi wayang orang tersebut, yang pada akhirnya nanti akan menciptakan proses regenerasi pemain dan pelaku kesenian tradisional. Apalagi, wayang Arjuna Galau ini juga didukung dengan beberapa selebritis Indonesia, seperti Maudy Koesnaedi dan Wulan Guritno. Bahkan, beberapa orang menteri pun ikut bermain, yaitu Mari Elka Pangestu dan Roy Suryo.

Wajar saja jika pagelaran wayang orang yang satu ini bisa menarik perhatian, dengan kombinasi unsur kontemporer dan lucu ditambah dengan pemeran yang sudah akrab ditonton, sehingga membuat cerita tidak monoton dan pesannya tetap tersampaikan. Lakon Arjuna Galau arahan sutradara Teguh Ampiranto ini sendiri juga menceritakan kisah cinta, yakni antara Arjuna dari negeri Madukara dengan Srikandi dari Negeri Pancala.

Dengan semua kolaborasi dari kesenian tradisional, pemeran yang profesional, bahasa yang mudah dimengerti, hingga cerita yang menarik bagi anak-anak muda, kesenian wayang orang ini pun bisa dinikmati dengan enak. Dengan cara tersebut, akan bisa melestarikan budaya Indonesia, sebagai karya seni yang luar biasa dengan fungsi dan keunikan tersendiri dalam menyampaikan nilai-nilai keindahan dan mendidik para generasi muda.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge